Penulis: Nelda Hannia

Bale Mengina merupakan rumah adat dari masyarakat adat bayan Kabupaten Lombok Utara. Terbuat dari kayu, bambu dan beratap alang-alang. Di dalam Bale Mengina terdapat satu ruangan yang disebut sebagai Inan Bale. Inan bale dibangun ditengah-tengah rumah berbentuk persegi, ditempatkan di posisi yang lebih tinggi dengan 6 kaki penyangga. Inan bale merupakan tempat yang sakral, tempat menyimpan barang berharga seperti pusaka leluhur dan tempat menyimpan barang berharga lainnya Ina/inaq” dalam bahasa sasak berarti Ibu.
Perempuan memegang peranan penting dalam menjalankan eksistensi budaya lokal. Istilah “Gumi Bayan Gumi Nina” yang berarti Bumi perempuan adalah ungkapan yang sering diucapkan masyarakat Bayan, bermakna bumi perempuan memberikan kesuburan atas kehidupan untuk kemaslahatan masyarakat adat Bayan.
Lombok Utara berada di wilayah rawan bencana alam gempa bumi dan masyarakat adat sudah sedari dahulu telah membaca itu. Sehingga menyiapkan hunian yang adaptif tahan akan guncangan gempa. Mengingat pada juli 2018 lalu, Gempa bumi berkekuatan 7.0 SR mengguncang lombok dan menghancurkan ribuan bangunan . Namun, Bale Mengina masih berdiri kokoh sampai saat ini.
Dibangun secara bergotong-royong dengan bahan yang dipilih khusus dan dengan perhitungan waktu yang tepat. Komponen dan struktur pembangunan tersebut dilakukan secara turun temurun yang sarat akan makna, salah satunya untuk mitigasi bencana.
Geleng/Sambi: Sistem ketahanan Pangan dan Ruang Arsip Benih
Masyarakat adat sudah menyiapkan dan memperhitungkan dari semua aspek, salah satunya juga adalah Lumbung pangan atau masyarakat adat Bayan membaginya dalam bentuk “Geleng, Sambi dan Monjeng“. dibangun dengan kokoh dan terpisah dari rumah utama dengan tujuan agar terhindar dari gangguan seperti tikus, hama penyakit dan bencana lainnya. Lumbung ini adalah bentuk kearifan lokal sebagai upaya adaptasi dan mitigasi guna menghadapi krisis pangan dan ruang arsip benih.
Sistem Pengetahuan Lokal yang keren bukan?, Kalau di tempat kamu gimana?